Saturday, June 18, 2016

Fakta unik kesalahan Orang Tua dalam mendidik Anak


Apa yang terjadi pada kita tidak luput dari kesalahan kita yang pernah kita lakukan , ada pepatah mengatakan apa yang anda tanam itulah yang akan anda tuai , di sini saya akan membahas fakta unik yang mungkin para orang tua tidak ketahui dan menjadi kebiasaan :

1. Tanamkan nilai agama secara dini
Mengenalkan nilai-nilai agama sejak usia dini diyakini mampu menghidarkan seorang anak dari perilaku-perilaku yang menyimpang. Misalnya penyalahgunaan narkoba dan tindakan tak terpuji lainnya. Anak adalah anugrah Tuhan yang perlu kita didik agar berguna bagi umatNYA yang lain.
Setiap agama mengajarkan hal yang baik kepada pemeluknya. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai agama kepada anak usia dini mampu menghindarkan mereka (anak) dari penyalahgunaan narkoba. Semua agama juga sudah mengharamkan penyalahgunaan narkoba
bayangkan kalau anak kita mencari informasi tentang permasalahan narkoba kepada orang lain. Syukur kalau tempat dia bertanya itu adalah orang yang paham tentang narkoba. Bagaimana jika anak kita justru di ajak untuk mencoba menggunakan narkoba

Secara umum ciri penyalahguna narkoba dibagi dalam tiga tahap, yakni tahap coba-coba, tahap pengguna tetap dan tahap kecanduan ujar . Dan di tahap coba-coba misalnya terjadi perubahan pola makan pada anak. Sementara itu pada tahap kecanduan anak sudah mulai merokok dan memiliki masalah keuangan. Tahap yang paling berat yaitu tahap kecanduan. Pada tahap kecanduan ini ciri-cirinya adalah adanya bekas suntikan di lengan, di temukan alat penggunaan narkoba dalam kamar.

2. Terlalu sering melarang
Ketika anak berusia 4-6 tahun, anak sedang berada dalam zona kreatif dengan peningkatan rasa ingin tahu dan ingin belajar yang sangat tinggi. Namun, sikap kreatif anak dan daya ekplorasinya dianggap sebagai kenakalan orangtua, lalu berusaha membatasi gerak mereka. Jangan main di sana, atau Jangan dipegang-pegang!, dan masih banyak kata larangan lain yang digunakan orangtua untuk membatasi kreativitas anak. Meski memiliki tujuan yang baik agar si anak tidak terluka, namun kata-kata jangan dan tidak ternyata bisa membuat anak menjadi stres karena mereka tidak bebas untuk melakukan apapun.

Gunakan kata-kata lain yang lebih baik untuk mengarahkan anak, sehingga anak akan menerimanya dengan positif. Anak akan mengerti bahwa Anda melarangnya melakukan hal tersebut karena berbahaya, dan bukan karena tidak sayang pada anak. Kalau selalu dilarang, suatu saat anak bisa mencuri-curi untuk melakukannya saat Anda tidak tahu.

3. Terlalu memaksakan kehendak akan menjadi tekanan
Perlu kita ketahui bahwa anak diciptakan dengan karakter dan kepribadian yang berbeda-beda, sehingga mereka juga mempunyai impian dan cita-cita yang berbeda. Dengan dalih memberikan segala yang terbaik dan mempersiapkan masa depannya, beberapa orang tua menerapkan aturan mutlak dalam pola asuh anak. Aturan mutlak tanpa kompromi ini biasa disebut hyper parenting.
Pada dasarnya, wajar bila orang tua berharap anak-anak bisa mewujudkan keinginannya. Dan keinginan setiap orang tua adalah yang terbaik bagi anaknya. Namun memaksakan kehendak secara mutlak pada anak bukan cara terbaik. Anak-anak dengan tumbuh kembang yang baik adalah anak-anak yang memiliki kebebasan bereksperimen, bereksplorasi dan menentukan impian serta cita-cita mereka. Orang tua yang menekan anak harus sesuai dengan harapan, justru akan membuat anak merasa terkekang.

Perilaku hyper parenting seperti : menerapkan kedisplinan yang berlebihan, membatasi gerak dan sosialisasi anak, membanding-bandingkan kemampuan anak dengan kemampuan anak lain yang lebih hebat, dan menerapkan standar tinggi dalam pencapaian prestasi tentu menimbulkan tekanan pada pola pikir anak. Hal ini bisa berakibat fatal bagi tumbuh kembangnya. Anak bisa menjadi sangat tertutup dengan kecenderungan psikologis yang buruk, atau anak bisa mencari jalan asal-asalan agar bisa keluar dari kekangan orang tua. Anak menjadi sulit dikontrol, bahkan jauh dari harapan,Jadilah orang tua yang bijaksana.karena akan ada kemungkinan apa yang di ajarkan oleh orang tua bisa jadi di lakukan kepada orang lain.

4. Hanya memperhatikan kebutuhan jasmaninya saja
Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Bila kasih sayang tidak di dapatkan dirumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.

Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas –waiyadzubillah-. Seorang anak perempuan misalnya, karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya ia mencari perhatian dari laki-laki di luar lingkungan keluarganya. Dia merasa senang mendapatkan perhatian dari laki-laki itu, karena sering memujinya, merayu dan sebagainya. Hingga ia rela menyerahkan kehormatannya demi cinta semu.

5. Selalu memenuhi permintaan anak
Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaanya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik

Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqomah dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakah muru’ah (harga diri) dan kebenaran.

6. Kurangnya komunikasi
tidak menjalin komunikasi yang harmonis dengan remaja. Sahabat Ummi komunikasi adalah alat penting dalam berinteraksi dengan sesama manusia, termasuk dengan buah hati kita. Namun sayangnya, tidak sedikit orangtua yang tidak bisa menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anaknya. Karena alasan sama-sama sibuk maka sulit berkomunikasi. Padahal dengan komunikasi yang sehat antara orangtua dan anak bisa memagari anak dari perilaku yang tidak baik.
Ketika anak kita menginjak usia remaja, banyak hal baru yang akan dialaminya. Sehingga mereka mudah galau dan memerlukan tempat untuk curhat. Apa jadinya jika komunikasi remaja dengan orangtuanya tersumbat. Mereka akan mencari tempat curhat yang lain. Kalau mereka menemukan sosok yang baik selain orangtuanya tidak jadi masalah, tapi jika menemukan sosok yang tidak baik bisa fatal akibatnya.

Ada contoh kasus, seorang remaja yang merasa kesepian di rumah. Kemudian ia mencari obat kesepian dengan nongkrong bersama teman-temannya. Kehadirannya disambut hangat oleh seorang gembong narkoba. Anak itu mendapatkan apa yang dicarinya, persahabatan, tempat curhat, dan perhatian yang semua itu tidak didapatnya di rumah. Singkat cerita, anak itu pun menjadi pecandu narkoba dan sekaligus pengedar narkoba. Masa mudanya hancur karena berawal dari masalah komunikasi.

7. Gagalnya mengendalikan emosi
orangtua tidak berhasil membuang sampah dalam dirinya. Tekanan pekerjaan, beban hidup yang semakin berat,  dan letih menyebabkan kita menyimpan emosi yang siap meledak. Emosi itu adalah sampah dalam diri kita. Alangkah bahayanya jika kita membawa sampah itu ketika berinteraksi dengan buah hati. Kita menjadi mudah terpancing emosi dengan hal-hal sepele di hadapan anak kita. Bisa jadi anak-anak kita-lah tempat membuang sampah dalam diri kita. Mereka menjadi luapan emosi kita.

Apa yang mereka rasakan jika terus menerus menjadi tempat sampah orangtuanya? Marah, benci, merasa direndahkan, dendam, dan masih banyak lagi rasa yang bersemanyam dalam hati anak-anak itu. Rasa-rasa itulah yang mengantarkan anak remaja kita menjadi sosok yang bengal dan susah diatur.

8. Tiga perilaku dasar dalam komunikasi
Sejak kecil, seorang anak perlu dididik tiga perilaku dasar dalam komunikasi dan berhubungan dengan orang lain. Yang pertama adalah harus belajar mengucapkan “terima kasih” kepada siapa saja yang sudah memberikan sesuatu kepadanya, yang kedua adalah harus belajar mengucapkan kata “tolong” apabila ingin meminta bantuan kepada orang di sekitarnya, dan yang ketiga adalah belajar mengucapkan kata “maaf” apabila memang bersalah. Kelihatannya memang sederhana, tapi coba lihat, berapa banyak orang yang merasa dirinya sudah dewasa yang terbiasa mengucapkan kata-kata tersebut ? Kalau anak kita sudah terbiasa mengucapkannya sejak kecil, perilakunya akan lebih menghargai orang lain. Karakter, kepribadian, dan kualitas seorang anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan input yang diterimanya dari orang tua.Bila orang tua kurang memberikan bimbingan ini secara maksimal, maka peran ini akan diambil alih oleh lingkungan, yang mana bisa memberikan berbagai macam input yang lebih banyak negatifnya daripada positifnya.

( SINGA SIRKUS BELAJAR DUDUK DIKURSI HANYA KARENA TAKUT DI CAMBUK , TAPI KALIAN BOLEH MENYEBUT SINGA INI TERLATIH BUKAN TERDIDIK ~ 3 IDIOT )

Demikianlah delapan kesalahan yang sering dilakukan orang tua. Yang mungkin kita juga tidak menyadari bila telah melakukannya. Untuk itu, marilah berusaha untuk terus menerus mencari ilmu, terutama berkaitan dengan pendidikan anak, agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam mendidik anak, yang bisa menjadi fatal akibatnya bagi masa depan mereka. Kita selalu berdo’a, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah serta berakhlak mulia.
Wallahu a’lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment