Apa yang terjadi pada kita tidak luput dari kesalahan
kita yang pernah kita lakukan , ada pepatah mengatakan apa yang anda tanam
itulah yang akan anda tuai , di sini saya akan membahas fakta unik yang mungkin
para orang tua tidak ketahui dan menjadi kebiasaan :
1. Tanamkan nilai agama
secara dini
Mengenalkan nilai-nilai agama sejak usia dini diyakini
mampu menghidarkan seorang anak dari perilaku-perilaku yang menyimpang.
Misalnya penyalahgunaan narkoba dan tindakan tak terpuji lainnya. Anak adalah
anugrah Tuhan yang perlu kita didik agar berguna bagi umatNYA yang lain.
Setiap agama mengajarkan hal yang baik kepada pemeluknya.
Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai agama kepada anak usia dini mampu
menghindarkan mereka (anak) dari penyalahgunaan narkoba. Semua agama juga sudah
mengharamkan penyalahgunaan narkoba
bayangkan kalau anak kita mencari informasi tentang
permasalahan narkoba kepada orang lain. Syukur kalau tempat dia bertanya itu
adalah orang yang paham tentang narkoba. Bagaimana jika anak kita justru di
ajak untuk mencoba menggunakan narkoba
Secara umum ciri penyalahguna narkoba dibagi dalam tiga
tahap, yakni tahap coba-coba, tahap pengguna tetap dan tahap kecanduan ujar .
Dan di tahap coba-coba misalnya terjadi perubahan pola makan pada anak.
Sementara itu pada tahap kecanduan anak sudah mulai merokok dan memiliki
masalah keuangan. Tahap yang paling berat yaitu tahap kecanduan. Pada tahap
kecanduan ini ciri-cirinya adalah adanya bekas suntikan di lengan, di temukan
alat penggunaan narkoba dalam kamar.
2. Terlalu sering
melarang
Ketika anak berusia 4-6 tahun, anak sedang berada dalam
zona kreatif dengan peningkatan rasa ingin tahu dan ingin belajar yang sangat
tinggi. Namun, sikap kreatif anak dan daya ekplorasinya dianggap sebagai
kenakalan orangtua, lalu berusaha membatasi gerak mereka. Jangan main di sana,
atau Jangan dipegang-pegang!, dan masih banyak kata larangan lain yang
digunakan orangtua untuk membatasi kreativitas anak. Meski memiliki tujuan yang
baik agar si anak tidak terluka, namun kata-kata jangan dan tidak ternyata bisa
membuat anak menjadi stres karena mereka tidak bebas untuk melakukan apapun.
Gunakan kata-kata lain yang lebih baik untuk mengarahkan
anak, sehingga anak akan menerimanya dengan positif. Anak akan mengerti bahwa
Anda melarangnya melakukan hal tersebut karena berbahaya, dan bukan karena
tidak sayang pada anak. Kalau selalu dilarang, suatu saat anak bisa
mencuri-curi untuk melakukannya saat Anda tidak tahu.
3. Terlalu memaksakan
kehendak akan menjadi tekanan
Perlu kita ketahui bahwa anak diciptakan dengan karakter
dan kepribadian yang berbeda-beda, sehingga mereka juga mempunyai impian dan
cita-cita yang berbeda. Dengan dalih memberikan segala yang terbaik dan
mempersiapkan masa depannya, beberapa orang tua menerapkan aturan mutlak dalam
pola asuh anak. Aturan mutlak tanpa kompromi ini biasa disebut hyper
parenting.
Pada dasarnya, wajar bila orang tua berharap anak-anak
bisa mewujudkan keinginannya. Dan keinginan setiap orang tua adalah yang
terbaik bagi anaknya. Namun memaksakan kehendak secara mutlak pada anak bukan
cara terbaik. Anak-anak dengan tumbuh kembang yang baik adalah anak-anak yang
memiliki kebebasan bereksperimen, bereksplorasi dan menentukan impian serta
cita-cita mereka. Orang tua yang menekan anak harus sesuai dengan harapan,
justru akan membuat anak merasa terkekang.
Perilaku hyper parenting seperti : menerapkan
kedisplinan yang berlebihan, membatasi gerak dan sosialisasi anak,
membanding-bandingkan kemampuan anak dengan kemampuan anak lain yang lebih
hebat, dan menerapkan standar tinggi dalam pencapaian prestasi tentu
menimbulkan tekanan pada pola pikir anak. Hal ini bisa berakibat fatal bagi
tumbuh kembangnya. Anak bisa menjadi sangat tertutup dengan kecenderungan
psikologis yang buruk, atau anak bisa mencari jalan asal-asalan agar bisa
keluar dari kekangan orang tua. Anak menjadi sulit dikontrol, bahkan jauh dari
harapan,Jadilah orang tua yang bijaksana.karena akan ada kemungkinan apa yang
di ajarkan oleh orang tua bisa jadi di lakukan kepada orang lain.
4. Hanya memperhatikan
kebutuhan jasmaninya saja
Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah
memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah
memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang
bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk
mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang
tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga
membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Bila kasih sayang tidak di dapatkan
dirumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.
Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan
anak-anak terjerumus ke dalam pergaulan bebas –waiyadzubillah-. Seorang anak
perempuan misalnya, karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya ia mencari
perhatian dari laki-laki di luar lingkungan keluarganya. Dia merasa senang
mendapatkan perhatian dari laki-laki itu, karena sering memujinya, merayu dan
sebagainya. Hingga ia rela menyerahkan kehormatannya demi cinta semu.
5. Selalu memenuhi
permintaan anak
Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang
diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal,
tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan
kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend, padahal baru
sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal ini hanya akan
menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaanya,
maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya
mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan
uangnya dengan baik
Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak
yang suka kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri,
tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat
merusak fitrah, membunuh sikap istiqomah dalam bersikap zuhud di dunia,
membinasakah muru’ah (harga diri) dan kebenaran.
6. Kurangnya komunikasi
tidak menjalin komunikasi yang harmonis dengan remaja.
Sahabat Ummi komunikasi adalah alat penting dalam berinteraksi dengan sesama
manusia, termasuk dengan buah hati kita. Namun sayangnya, tidak sedikit
orangtua yang tidak bisa menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anaknya.
Karena alasan sama-sama sibuk maka sulit berkomunikasi. Padahal dengan
komunikasi yang sehat antara orangtua dan anak bisa memagari anak dari perilaku
yang tidak baik.
Ketika anak kita menginjak usia remaja, banyak hal baru
yang akan dialaminya. Sehingga mereka mudah galau dan memerlukan tempat untuk
curhat. Apa jadinya jika komunikasi remaja dengan orangtuanya tersumbat. Mereka
akan mencari tempat curhat yang lain. Kalau mereka menemukan sosok yang baik
selain orangtuanya tidak jadi masalah, tapi jika menemukan sosok yang tidak
baik bisa fatal akibatnya.
Ada contoh kasus, seorang remaja yang merasa kesepian di
rumah. Kemudian ia mencari obat kesepian dengan nongkrong bersama
teman-temannya. Kehadirannya disambut hangat oleh seorang gembong narkoba. Anak
itu mendapatkan apa yang dicarinya, persahabatan, tempat curhat, dan perhatian
yang semua itu tidak didapatnya di rumah. Singkat cerita, anak itu pun menjadi
pecandu narkoba dan sekaligus pengedar narkoba. Masa mudanya hancur karena
berawal dari masalah komunikasi.
7. Gagalnya
mengendalikan emosi
orangtua tidak berhasil membuang sampah dalam dirinya.
Tekanan pekerjaan, beban hidup yang semakin berat, dan letih
menyebabkan kita menyimpan emosi yang siap meledak. Emosi itu adalah sampah
dalam diri kita. Alangkah bahayanya jika kita membawa sampah itu ketika
berinteraksi dengan buah hati. Kita menjadi mudah terpancing emosi dengan
hal-hal sepele di hadapan anak kita. Bisa jadi anak-anak kita-lah tempat membuang
sampah dalam diri kita. Mereka menjadi luapan emosi kita.
Apa yang mereka rasakan jika terus menerus menjadi tempat
sampah orangtuanya? Marah, benci, merasa direndahkan, dendam, dan masih banyak
lagi rasa yang bersemanyam dalam hati anak-anak itu. Rasa-rasa itulah yang
mengantarkan anak remaja kita menjadi sosok yang bengal dan susah diatur.
8. Tiga perilaku dasar
dalam komunikasi
Sejak kecil, seorang anak perlu dididik tiga perilaku
dasar dalam komunikasi dan berhubungan dengan orang lain. Yang pertama adalah
harus belajar mengucapkan “terima kasih” kepada siapa saja yang sudah memberikan
sesuatu kepadanya, yang kedua adalah harus belajar mengucapkan kata “tolong”
apabila ingin meminta bantuan kepada orang di sekitarnya, dan yang ketiga
adalah belajar mengucapkan kata “maaf” apabila memang bersalah. Kelihatannya
memang sederhana, tapi coba lihat, berapa banyak orang yang merasa dirinya
sudah dewasa yang terbiasa mengucapkan kata-kata tersebut ? Kalau anak kita
sudah terbiasa mengucapkannya sejak kecil, perilakunya akan lebih menghargai
orang lain. Karakter, kepribadian, dan kualitas seorang anak sangat ditentukan
oleh pendidikan dan input yang diterimanya dari orang tua.Bila orang
tua kurang memberikan bimbingan ini secara maksimal, maka peran ini akan
diambil alih oleh lingkungan, yang mana bisa memberikan berbagai macam input
yang lebih banyak negatifnya daripada positifnya.
( SINGA SIRKUS BELAJAR DUDUK DIKURSI HANYA KARENA TAKUT DI CAMBUK ,
TAPI KALIAN BOLEH MENYEBUT SINGA INI TERLATIH BUKAN TERDIDIK ~ 3 IDIOT )
Demikianlah delapan kesalahan yang sering dilakukan orang
tua. Yang mungkin kita juga tidak menyadari bila telah melakukannya. Untuk itu,
marilah berusaha untuk terus menerus mencari ilmu, terutama berkaitan dengan
pendidikan anak, agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam mendidik
anak, yang bisa menjadi fatal akibatnya bagi masa depan mereka. Kita selalu
berdo’a, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi shalih dan shalihah
serta berakhlak mulia.
Wallahu a’lam bishshawab.


No comments:
Post a Comment